Saturday, June 20, 2026

Catatan Hari Pertama Healing 10 Hari Bali Lombok Bromo

Akhirnya hari keberangkatan healing Bali Lombok Bromo pun tiba. Hari ini, Sabtu 20 Juni 2026 grup ini pun berangkat. Grup emak-emak ini rata-rata usianya di atas 60 tahun. Tapi, energinya melebihi anak-anak SMK saat healing..

Gak percaya? Awalnya sih kupikir pergi bareng emak-emak ini bakalan kalem dan sunyi. Ternyata, aku salah duga kawan..


Cerita ini dibuktikan saat gabung jalan-jalan bareng emak-emak gaul ini tahun lalu saat ke Bandung. Duh, ramenya. Muridku kalah wkwk..

Aku bayangin sih, tahun lalu hanya sekitar 5 hari pulang pergi. Sedangkan perjalanan kali ini adalah 11 hari pulang pergi. 

Bayangkan catatan perjalanan hari pertama healing 10 Hari Bali Lombok Bromo ini bisa jadi awal caraku mendokumentasikan cerita ini. Ya, aku mau kamu pun tahu gimana gokilnya emak-emak ini, meskipun sudah gak muda lagi.

Titik Keberangkatan healing Bali Lombok Bromo 


Seperti halnya emak-emak di seluruh Indonesia, apalagi sebagian dari mereka sudah jadi nenek, mereka diantar oleh anak, menantu, dan cucu. Kamu bisa bayangin betapa ramainya terminal Kemiling hari ini. 

Asyiknya sih, karena mereka sudah emak-emak, Bu Anna gak perlu repot-repot mengingatkan agar peserta healing membawa perlengkapan untuk perjalanan healing kali ini.


Yah, paling-paling ada yang nanya, karena takut salah atau tertinggal informasi. Maklum, emak-emak ini gak terlalu rajin scroll informasi di grup WhatsApp. Mereka  lebih sibuk masak dan mengurus urusan rumah yang gak ada habisnya. Mungkin itulah sebabnya, mereka sangat butuh hiburan. 

Dan, di titik kumpul terminal Kemiling inilah, aku melihat mereka. Aku membayangkan apakah aku bakal seperti mereka 20 tahun lagi? Oh ya, di grup ini ada yang usianya lebih dari 70 tahun. Bu Ela, namanya. Orangnya sangat energik.


Hari Pertama perjalanan Healing Bali Lombok Bromo 


Sekitar jam 9.15an pagi, bus Puspa berwarna hijau ini pun meluncur dari Terminal Kemiling. Dan, kami masih harus menjemput 7 orang lagi di terminal Korpri dekat Airan. Ya, nggak jauh dari sekolahku. SMK BLK Bandar Lampung. 

Kebetulan, aku dapat jatah duduk di belakang sekali. Di pojok kiri. Tepat di sampingku masih kosong. 

Dan, ternyata yang duduk di sampingku adalah Bu Sri. Orangnya cukup berisi. Ya, kamu bisa bayangin bangku di belakang itu untuk 6 orang. Duduknya berdekatan dan tanpa sandaran kaki. Sementara, Bu Sri dengan tumbuhnya yang agak berisi itu merasa kesulitan untuk duduk. 

Untungnya, Bu Juwairah bersedia tukar duduk dengannya. Beliau tubuhnya rampung. Jadi, pas duduk di sampingku, aku pun bisa bernapas lega. 

Duh, bayangin 11 hari duduk berdesakan itu rasanya pasti nggak enak. Ya kan? Lagian, kaki Bu Sri juga pasti bengkak, karena perempuan yang sudah pensiun lebih dari 3 tahun ini, baru aja sembuh dari sakit. "Saya baru aja pulang opname di Imanuel," kata wanita asal Komering ini.


Budaya Berbagi Makanan Selama Perjalanan Healing 


Aku ingat pas ikutan pertama kali bareng rombongan ini. Baru aja keluar dari terminal Kemiling, ibu-ibu ini sudah ketawa terus. Seperti bebas gitu. 

Ah, melihat mereka, aku ingat emak di rumah. Kapan bisa ajak emak ikut jalan-jalan seperti ini ya? Pasti seru. Apalagi melihat mereka ya, seperti emak juga. Suka bagi-bagi makanan. Dan, makanan mereka itu enak semua saudara -saudara..

Baru aja, aku makan kacang goreng, agar, dan camilan lain. Belum lagi, rebusan pisang, mantang, dan nanti bakalan makan lemang ala Komering. Tapi, nanti.. karena sekarang kami sudah kenyang.

Sekarang, aku lihat, ibu-ibu ini sibuk berbagi cerita. Tentunya, sebagian masih sambil makan camilan. Dan, ibu yang duduk di sampingku sepertinya lagi gak enak badan. Beliau tidur. Jadi, aku bisa bercerita di sini.


Fakta tentang emak-emak Selama Healing 


Seperti yang Bu Ela bilang, "ibu-ibu kita lepaskan atribut kita ya. Semua kita sama. Di rumah ibu istri Kabid, istri bapak ini ..tapi, di perjalanan ini kita bareng. Sama. Harus saling menghargai dan menjaga.. ya ibu-ibu.."

Dan, ibu-ibu ini dengan heboh menanggapi dengan ucapan, "ya Bu Ela.." Yah, yang bagian ini, kelakuan mereka mengingatkan aku pada anak-anak di kelasku. wkwkwk. 

Belum lagi, Bu Ela dan emak-emak itu dari jam 1 hingga jam 3 siang ini konser di bis. Yah, meskipun suara mikropon gak bagus, aku merasa terhibur. Lucu juga, lihat emak-emak ini. wkwkwk. 

Bonusnya lagi, candaan mereka yang garing dengan tema pisang dan terong. Duh, aku hanya bisa mesam-mesem. Karena di bis ini ada 3 cowok, satu berusia sekitar 10 tahun, sedangkan dua lain adalah sopir dan kenek. Aku gak bisa bayangin apa yang dipikirkan oleh ketiga orang ini. Nah, kalau yang dua orang mungkin udah maklum. Tapi, yang masih 10 tahun itu gimana? Ah, pasti doi gak mengerti ya? Duh.. 

Untungnya, durasi candaan gak lama. Lalu, suasana hening kembali. Ibu-ibu kembali ngobrol dengan teman sebangku masing-masing. 
rest area di Jakarta 

Dan, seperti yang aku duga, agenda perjalanan pun molor waktunya, karena ibu-ibu terlalu lama menghabiskan waktu di rest area. Sekarang, sudah jam 18.35. Dan, kami masih ada di rest area di Jakarta. 

Wah, nggak lama lagi kami melanjutkan perjalanan. Beberapa emak-emak sudah duduk di bis. Bersiap tidur. Sisanya masih ada di masjid atau makan. 

Sedangkan pak sopir sedang berdiri di depan bis sambil menghisap rokok. Suasana malam mulai menyelimuti rest area ini. Tapi, aku masih bisa melihat lalu lalang bis, truk, dan mobil probadi keluar masuk rest area. Jakarta, emang seolah gak pernah tidur. 

Oya, for your info, selama perjalanan ini, ya sekitar 9 jam duduk bareng emak-emak yang rata-rata suku Lampung asli, aku pun dapat eksposure bahasa Lampung. Biasanya kan kalau di Bandar Lampung, aku jarang dengar orang ngomong dalam bahasa Lampung. Hingga, aku pikir, setelah jalan-jalan ini, aku pun bisa ngomong bahasa Lampung sedikit-sedikit. 

Thursday, June 18, 2026

Ceritaku di Balik 3 Tips Percaya Diri sebagai Kunci Pembuktian Harga Diri

ceritaku-di-balik-3-tips-percaya-diri-sebagai-kunci-pembuktian-harga-diri


Apakah kamu pernah merasa nggak didengar,  hingga merasa rendah diri? Atau pernahkah kamu bicara, lalu orang yang kamu pikir kamu hormati, memotong ucapanmu tanpa peduli perasaanmu?

Ah, aku pikir, mungkin hal ini pernah dirasakan oleh hampir semua orang yang lahir dari keluarga biasa aja atau underdog. Istilah underdog ini aku dengar dari seorang rapper Scoop Dogg. Terlepas dari siapa pun rapper ini, hal yang aku suka dari rapper yang terlahir di tahun 1971 ini, adalah rasa percaya diri yang ia miliki. Poin diri yang masih kurang dalam diriku.

Mungkin, itu sebabnya, aku masih suka membicarakan orang lain ya? wkwk.. Apalagi, sifatku yang cenderung introvert, hingga aku nggak merasa nyaman berada di keramaian dalam waktu yang lama. Kalau kata anak gaul sekarang, energi anak introvert itu, lekas habis jika ada di tengah keramaian orang yang nggak se-frekwensi. Tapi, hari gini, kalau pengin berkembang, kita kan harus bertemu dengan banyak orang. Nggak mungkin kita sortir orang-orang itu kayak pas beli cabe di lapak sayur bude Dewi. Ya kan?

Baca juga: The Vegetarian Mimpi Buruk Seorang Suami 

Anyway, setelah mengajar kurang lebih 20 tahun dengan berbagai tipe peserta didik, aku sering merasa bahwa aku nggak tahu apa-apa tentang cara mendidik anak-anak yang sifatnya bermacam-macam. Sehingga, aku merasa harus belajar lagi agar bisa menguatkan 3 tips percaya diri sebagai kunci pembuktian harga diri.

Ya, paling nggak, aku kan harus terlihat percaya diri saat mengajar di depan kelas. Nggak kikuk. Apalagi terbata-bata saat bicara di depan kelas. Wah, aku bisa habis ditertawakan anak-anak gen alpha yang kritis ini. 

1. Temukan Dirimu

Seperti juga hal lain dalam hidup ini, saat kita sudah menemukan yang kita cari, tujuan, atau alasan kita harus hidup, maka hidup kita akan lebih terarah. Ya, bayangkan aja saat kita keluar rumah nggak ada tujuan, pasti bingung kan? 

Ah, jadi ingin cerita tentang muridku dulu di tahun 2007an. Kalau nggak salah namanya Habir. Oya, for your info, dulu aku sempat mengajar di DCC Bandar Jaya Lampung Tengah di program D3 nya. Yah, di bangku kelas itulah aku mengenal Habir. 

Oya, dulu sih, S1 masih boleh ngajar S1 atau D3. 

Saat itu, aku mengajaknya bicara, karena ia sering absen saat ada pembelajaran. Dan, setelah itu, aku nggak tahu, ia terlihat rajin di kelas. Habir pun lulus dan kami nggak pernah bertemu. 


Singkat cerita, seorang teman di ruang guru bicara padaku.. "Mbak, masih ingat Habir nggak?" Aku hanya mengerutkan dahi sambil bertanya. "Kenapa?" Temanku tersenyum sambil mengoreksi kertas ujian di hadapannya. "Ia sudah jadi bos di Jambi. Salam buat Miss Yoha katanya..Kalau bukan karena nasihat Miss Yoha, aku pasti nggak lanjut sekolah. Dan, nggak bakal bisa jadi begini.." 

Saat itu, aku beneran nggak ingat Habir itu yang mana orangnya. Jujur, sekarang pun aku hanya bisa mengingat-ingat namanya. Wajahnya sih sudah lupa. Aku juga nggak ingat apa yang aku katakan pada Habir, hingga dapat menggerakkan hatinya. Satu hal yang pasti adalah mungkin karena Allah, kata-kata yang aku pernah katakan itu, membuka pikirannya untuk menemukan dirinya.

Kalau cerita dibalik adalah seperti siswa di kelasku sekarang, biasanya anak-amak yang sudah terlanjur merasa nakal, pasti akan merasa nggak percaya diri pas diminta untuk ke ruang guru. Mereka malas belajar dan sering nongkrong di kantin, meskipun nggak belanja. Mereka bolos kelas dan nggak mengerjakan tugas dari guru. 

Kebayang kan saat anak-anak ini melihat gurunya? Mereka pasti lari atau bersembunyi, karena nggak percaya diri dan merasa bersalah dengan perbuatannya sendiri.


Lalu, kita bayangkan lagi dalam posisi yang dibalik. Anak-anak yang dulu malas, sekarang rajin seperti Rafi kelas X TKJ. Aku melihat Rafi lebih percaya diri saat ia menghadap guru untuk mengurus nilainya. Ia juga terlihat lebih tenang. 

Alhamdulillah, aku pikir, saat ini Rafi sudah dalam posisi menemukan dirinya. Mengenal kekurangannya dan kelebihan yang ia miliki. Ia terlihat senang saat menang lomba e-game di sekolah. 

Jujur, aku ikut merasa bahwa pencapaianku yang terbesar adalah saat melihat perubahan sikap siswa menjadi anak yang lebih baik.

2. Menetapkan Tujuan yang Realistis 


Sebagai guru SMK, aku pikir, tujuan mendidik di sekolah bukan hanya diterima di PTN. Berbeda dengan SMA, yang mungkin dianggap sukses saat lulusannya 100% diterima di PTN seperti SMAN 14 Bandar Lampung. Sehingga, kepala sekolah menerima apresiasi khusus dari pemerintah daerah. 

Dalam obrolan guru di ruang guru, Waka kurikulum pun menyatakan pendapatnya tentang hal ini. "Kalau SMK sepertinya hampir nggak mungkin 100% lulusan masuk PTN. Lha, anak-anak kan masuk SMK supaya langsung kerja, bukan melanjutkan ke perguruan tinggi.." 


Dan, mendengar ucapannya aku pun setuju. Tapi, aku nggak ngomong apa-apa. Buat apa? Toh, nggak akan didengar juga. wkwk.. Lebih baik, aku habiskan energiku buat nulis atau baca buku.

Ah, masih ingat saat aku bicara di rapat Kenaikan Kelas. Baru aja aku ngomong, eh langsung aja dipotong oleh kepala sekolah. Yah, sudahlah. Anggap aja menyingkat waktu. Toh, hasilnya sudah aku duga. No problem. Plus, tujuanku yang realistis itu pus sudah tercapai. 

So, nothing personal. Ya kan?

Oya, sebagai informasi, aku sudah menetapkan tujuan realistis di kelas X, Xi, dan XII yang aku ampu. Alhamdulillah, meskipun aku menghadapi hambatan, kupikir aku sudah bisa mencapai target setahun ini. 

Ah, aku pikir, karena pencapaian inilah aku merasa percaya diri sebagai pembuktian harga diri. Proses mendidik anak-anak adalah bukti integritas sebagai guru. Proses yang selalu aku perjuangkan, meskipun penuh tantangan.




Yah, contohnya aja, aku mengikuti program CGP (Calon Guru Penggerak) Angkatan 11 tahun 2024. Proses belajar yang cukup lama. Kurang lebih 9 bulan. Udah seperti orang hamil aja ya? wkwkwk. Ah, ingat perjuangan saat cgp-an itu rasanya kok pengin tertawa, karena atasanku gak terlalu mendukung program ini. Alasannya adalah guru cgp sering meninggalkan kelas. Alasan yang nggak masuk akal, karena aku ikut kegiatan cgp itu pas hari Sabtu atau jam 7.30 -11 malam. Lha, itu kan bukan waktu mengajar? 

Karena itu, aku sangat kesulitan untuk mengumpulkan guru untuk sosialisasi yang harus dilakukan saat diseminasi budaya positif. Duh, aku mondar-mandir mencari guru yang bersedia untuk duduk sebentar di ruang BKK yang kecil itu. Alhamdulillah, terkumpul 10 orang guru. Meskipun, beberapa orang nggak ikut hingga proses take video selesai. 

Alhasil, aku pun edit video hingga berhari-hari, supaya durasi video sesuai dengan persyaratan pengumpulan tugas CGP. 

Belum lagi pas pengajar praktik CGP , Bu Eka Yuwanti, S.S yang juga kepala SMP Global Surya datang ke sekolah, duh aku malu karena kepala sekolah di tempatku ini cuek banget. Ah, mungkin karena Bu Eka ini dianggap tamuku ya? Jadi dicuekin. Padahal, beliau kan dari BGP (Balai Guru Penggerak). 

Tapi, sekali lagi, bagiku, ini kuanggap sebagai sebuah tantangan. Untungnya, Bu Eka sepertinya paham bahwa beberapa sekolah emang resisten terhadap perubahan. So, beliau terlihat santai aja. 

Meskipun aku kadang merasa sedikit malu-malu saat teman-teman dari sekolah lain yang bercerita tentang dukungan penuh sekolah terhadap program CGP ini. Bahkan, beberapa kepala sekolah mengharuskan guru-gurunya ikut program ini. "Kalau gurunya pintar, siswanya pasti ikut pintar," itu kata mereka. 

Aku mengangguk setuju. Seorang guru harus selalu berusaha belajar, apa pun tantangannya. Ya kan? Bukankah belajar adalah hak semua orang? Nggak ada seorang pun yang berhak melarang kita untuk terus belajar.

Syukurlah, masa itu sudah berlalu. Tujuanku telah tercapai. Dan, rasanya bangga pada diriku sendiri. Aku bisa bertemu banyak guru hebat se-Bandar Lampung di Teknokrat, meskipun kepala sekolahku tidak datang. Toh, aku bisa foto bareng fasilitatorku yang keren dan baik. Bu Liswantari dan PP ku, Bu Eka Yuwanti. Bahagianya nggak terucap. Senyum itu nempel di wajahku seharian wkwkwk..

3. Berhenti Membandingkan Diri dengan Pencapaian Orang Lain


Aku percaya bahwa semua orang punya keistimewaannya masing-masing. Nggak ada seorang pun yang sama. So, nggak ada gunanya membayangkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain. 

Kenapa? Karena membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain itu adalah pekerjaan yang melelahkan dan nggak ada duitnya. Sedih kan? wkwk..

Aku bisa ambil contoh saat 17 guru di sekolahku diterima PPPK, hingga hanya tersisa beberapa guru lama di sekolah. 

Kalau aku bilang nggak sedih, itu rasanya nggak mungkin. Ya, gimana nggak? Kami sudah bersama selama 16 tahun lebih. Aku pikir rasa sedih karena berpisah dengan teman-teman baik dan kecewa karena nggak ikut terangkut PPPK adalah hal yang lumrah. Apalagi, guru PPPK konon punya jaminan kesejahteraan yang lebih baik.

Pertanyaan - pertanyaan seperti, "Kenapa guru bahasa Inggris gak ada formasi ya? Enak ya guru PPPK, gajinya lebih besar.. " Ucapan - ucapan seperti ini kerap mengisi obrolan di ruang guru sepanjang tahun 2025. Apalagi, masih ada 6 guru PPPK yang masih mengajar di sekolah. Yup, mereka mengajar di sekolah baru dan sekolah lama. 

Dan, kamu tahu, guru-guru ini sering curhat tentang tunjangan guru dan gaji PPPK di ruang guru. Padahal saat itu, kami belum gajian. Dan, kadang mereka cerita saat akhir bulan, hingga menu di meja makan kami adalah sayur kangkung. Okey, kangkung emang sehat, tapi kalau tiap hari itu kok berasa jadi kelinci wkwk..

Anyway, mungkin wajar kiranya mental teman-teman guru agak jatuh. Ya, pas guru PPPK datang curhat dapat tunjangan sekian puluh juta. Eh, pas temanku mau pinjam, doi hanya diam. 

Lalu, aku berpikir, kenapa teman-teman yang PPPK itu suka pamer di sekolah? Seorang teman tersenyum dan menjawab pertanyaanku, "Itu karena mereka gak bisa pamer di sekolahnya yang baru. Bukankah orang itu pada dasarnya suka pamer? Dan, hanya orang-orang yang punya empati dan  menggunakan akalnya aja yang bisa menahan diri.." 

"Lha iya, matanya kan melihat, teman-temannya belum gajian, eh kok pamer gaji jutaan," kata temanku yang lain. 

Untungnya, sekarang guru PPPK kan gak boleh mengajar di sekolah lain. Jam mengajar mereka sudah dipenuhi oleh sekolah induk.

Anyway, konflik itu pun mereda. Apalagi, sekarang hampir semua guru di sekolahku sudah sertifikasi. Jadi, ada tambahan 2 juta per bulan dari pemerintah. Not bad

Dan, mungkin benarlah kata orang out of sight out of mind. Jauh di mata jauh di hati. Karena nggak ada pembanding, maka teman-teman sekarang terlihat segar. Hampir semua guru tambah berat badannya wkwk. Dulu kurus, sekarang agak berisi. Alhamdulillah.