Perjalanan Yoha
Life style blog: Life is a great adventure
Saturday, June 20, 2026
Catatan Hari Pertama Healing 10 Hari Bali Lombok Bromo
Thursday, June 18, 2026
Ceritaku di Balik 3 Tips Percaya Diri sebagai Kunci Pembuktian Harga Diri
Apakah kamu pernah merasa nggak didengar, hingga merasa rendah diri? Atau pernahkah kamu bicara, lalu orang yang kamu pikir kamu hormati, memotong ucapanmu tanpa peduli perasaanmu?
Ah, aku pikir, mungkin hal ini pernah dirasakan oleh hampir semua orang yang lahir dari keluarga biasa aja atau underdog. Istilah underdog ini aku dengar dari seorang rapper Scoop Dogg. Terlepas dari siapa pun rapper ini, hal yang aku suka dari rapper yang terlahir di tahun 1971 ini, adalah rasa percaya diri yang ia miliki. Poin diri yang masih kurang dalam diriku.
Mungkin, itu sebabnya, aku masih suka membicarakan orang lain ya? wkwk.. Apalagi, sifatku yang cenderung introvert, hingga aku nggak merasa nyaman berada di keramaian dalam waktu yang lama. Kalau kata anak gaul sekarang, energi anak introvert itu, lekas habis jika ada di tengah keramaian orang yang nggak se-frekwensi. Tapi, hari gini, kalau pengin berkembang, kita kan harus bertemu dengan banyak orang. Nggak mungkin kita sortir orang-orang itu kayak pas beli cabe di lapak sayur bude Dewi. Ya kan?
Baca juga: The Vegetarian Mimpi Buruk Seorang Suami
Anyway, setelah mengajar kurang lebih 20 tahun dengan berbagai tipe peserta didik, aku sering merasa bahwa aku nggak tahu apa-apa tentang cara mendidik anak-anak yang sifatnya bermacam-macam. Sehingga, aku merasa harus belajar lagi agar bisa menguatkan 3 tips percaya diri sebagai kunci pembuktian harga diri.
Ya, paling nggak, aku kan harus terlihat percaya diri saat mengajar di depan kelas. Nggak kikuk. Apalagi terbata-bata saat bicara di depan kelas. Wah, aku bisa habis ditertawakan anak-anak gen alpha yang kritis ini.
1. Temukan Dirimu
2. Menetapkan Tujuan yang Realistis
3. Berhenti Membandingkan Diri dengan Pencapaian Orang Lain
Sunday, October 12, 2025
Theresia Dwiaudina Sari Putri: Bidan Desa Pertama dari Desa Uzuzozo, Ende
Mengulik kisah luar biasa dari orang-orang hebat adalah proses belajar untuk menyadari bahwa semua orang bisa berbuat lebih untuk negeri ini.
Seperti sosok pejuang kesehatan dari timur yang menjadi kebanggaan Desa Uzuzozo, Ende, Nusa Tenggara Timur ini. Theresia Dwiaudina Sari Dewi.
Perempuan yang akrab dipanggil Dini ini sukses meraih Apresiasi 14th Satu Indonesia Award 2023 kategori bidang kesehatan. Penghargaan ini diberikan pada Dini atas kontribusinya sebagai bidan desa pertama di Desa Uzuzozo, Ende.
Theresia Dwiaudina Sari Putri: Bidan Desa Pertama di Uzuzozo, Ende
Awalnya, bagi Dini, menggeluti bidang kesehatan hanya untuk mengikuti harapan orang tuanya. Namun, setelah lulus STIKes di Surabaya di tahun 2017, ia pun mulai mengabdikan dirinya sebagai bidan desa pertama di Desa Uzuzozo, Ende.
Dalam sebuah wawancara dengan podcast Orang Kita, Dini menyampaikan tentang pengalamannya sebagai seorang tenaga kesehatan pertama di desa terpencil yang jaraknya cukup jauh dari Ende. Sekitar dua jam perjalanan.
Hal itulah yang jadi alasan tenaga kesehatan enggan bertugas di sana. Selain letak geografis Desa Uzuzozo yang berada di kawasan perbukitan, hutan, dan sejumlah sungai besar yang sering meluap, penolakan dari warga desa pun jadi tantangan tersendiri bagi bidan desa yang lulus S1 Kebidanan STIKes Bakti Utama Pati tahun 2023 ini.
Namun, semangat perempuan muda ini nggak pernah surut. Dini rela memberikan layanan kesehatan terpadu buat warga desa. Dengan motornya, setiap hari ia berkeliling untuk menemui warga yang membutuhkannya.
Ia memberikan konsultasi ibu hamil, wawancara medis, pemeriksaan kadar hemoglobin dalam darah serta cek kehamilan dan layanan kesehatan lainnya.
Tantangan Selama menjadi Bidan di Desa Uzuzozo, Ende
Letak geografis Desa Uzuzozo yang cukup terpencil dan jalanan yang ekstrem membuat layanan dan informasi kesehatan cukup sulit diakses. Sehingga, Dini harus berusaha mengedukasi warga desa tentang kesehatan dan pendidikan.
Dan, warga desa juga menganggap saat ibu hamil, cukup suami yang tahu.
Masalah lainnya, ibu-ibu di desa masih belum terbiasa memeriksakan kehamilan di fasilitas kesehatan. Mereka lebih suka melahirkan di rumah. Akibatnya, risiko kematian ibu dan bayi pun cukup tinggi.
Untuk itu, Dini nggak bisa bergerak sendiri. Ia mengajak dukun beranak, Theresia Jija (75 tahun) yang sudah berpengalaman puluhan tahun untuk bekerja sama.
"Saya bilang, kita bisa kolaborasi. Saya bantu ibu hamil ketika persalinan dan mama dukun bantu urus anak. Jadi kerja mama juga lebih ringan," ungkapnya.
Upaya pun membuahkan hasil. "Dukun itu sekarang jadi mata-mata. Ia yang bilang kalau ada ibu yang hamil," katanya sambil tersenyum.
Ibu hamil di desa pun mulai percaya untuk memeriksakan kehamilan dan melahirkan di fasilitas kesehatan. Salah satunya adalah Susilia Muku, 39 tahun, yang melahirkan anak ke-tujuh di fasilitas kesehatan di tahun 2018.
Selain itu, Dini bukan hanya mengurusi ibu hamil dan melahirkan, tapi juga menjadi penggerak bagi warga tentang pentingnya pola asuh anak, gizi seimbang, imunisasi, dan sanitasi.
Usaha Membawa Perubahan di Desa Uzuzozo
Dini juga menceritakan bagaimana ia yang sebagai bidan desa sekaligus tenaga kesehatan satu-satunya berusaha menyukseskan program kesehatan ibu dan anak.
Program yang mencakup pencegahan stunting, revolusi KIA, dan menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Syukurlah, Dini telah sukses membawa perubahan bagi desa dengan penurunan angka stunting sekitar 80%.
Dan, sebagai satu-satunya petugas kesehatan di desa, Dini melayani semua hal yang terkait dengan kesehatan. Pelayanan yang diberikan pada warga mencakup kesehatan ibu dan anak, anak sekolah, lansia, jambanisasi, pendidikan, dan sosial.
Bahkan, Dini pun ikut membantu menyelesaikan masalah yang terjadi di masyarakat, seperti penyelesaian masalah warga yang belum memiliki jamban.
Pencapaian dan Keberlanjutan Program setelah Menerima Penghargaan
Setelah mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Award, Dini tetap melakukan pelayanan kesehatan seperti biasa. Ia pun telah melakukan kaderisasi petugas kesehatan yang membantunya dalam aktivitas pelayanan masyarakat. Selain itu, Dini juga telah mengelola dana apresiasi Astra untuk memberikan layanan yang lebih baik pada warga desa.
Saat ditanya apa yang ia inginkan, Dini menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan S2. Keinginan yang di tahun ini tercapai. Sekarang, Dini tercatat sebagai penerima beasiswa S2 di Universitas Indonesia.
Pencapaian yang ia raih ini adalah upayanya untuk mempersiapkan diri agar dapat melayani desa dalam skala yang lebih luas.
Anak muda, menurutnya, harus memikirkan apa yang dapat diberikan pada negeri ini tanpa memikirkan imbalan. Seperti dirinya, ia hanya berpikir untuk mengabdi pada masyarakat. Ia nggak mengira dirinya akan memperoleh apresiasi astra tahun 2023 dan beasiswa LPDP di tahun 2025.
Referensi:
https://anugerahpewartaastra.satu-indonesia.com/2024/artikel/8862/
https://instagram.com/theresiadwiaudn_
Saturday, August 2, 2025
Bangga dengan Pencapaian Diri yang Sederhana
"Ah, aku sih apa. Beda dengan dia yang hebat banget. Anak orang kaya, pintar, dan cantik lagi. Paket lengkap." Keluh seorang teman.
Ia terlihat frustasi. Bos tempatnya bekerja marah, karena pekerjaan yang dilakukan nggak sesuai ekspektasi.
Padahal, aku tahu bahwa temanku ini sudah berusaha semampunya. Aku pikir, seharusnya ia sudah belajar bangga dengan pencapaian diri yang sederhana.
Nggak perlu mengecilkan apa pun yang sudah diperjuangkan dan diraih dengan sekuat tenaga. Karena, kalau bukan kita yang bangga dengan pencapaian kita sendiri, lalu siapa lagi? Ya kan?
Dan, yang jelas, bos yang memicu sikap minder anak buahnya itu, mungkin aja, bos yang toxic. Bos yang sebaiknya tidak kita jadikan teladan.
Apakah afirmasi pencapaian diri itu perlu?
Hidup ini bisa sederhana atau pun rumit. Semua tergantung cara berpikir kita.
Karena itu, mungkin, kita bisa melihat diri kita sendiri dan nggak membandingkan diri kita dengan orang lain.
Karena jika kita nggak berhenti membandingkan diri kita dengan orang lain, hasilnya ada dua. Gagal atau sukses.
Dan, kedua hasil ini bisa jadi pengalaman yang menyakitkan jika kita alami semua prosesnya.
Sebut aja, seekor kodok yang membandingkan diri dengan ayam. Hingga ia meniru ayam dan makan makanan ayam. Alhasil, kodok ini mati. Ia nggak bisa meniru gaya hidup ayam yang berbeda dengan dirinya.
Lalu, ada juga seekor anak ayam yang meniru bebek. Ia berenang ke sana kemari meniru bebek. Anak ayam itu berhasil berenang. Tapi, apakah anak ayam lantas berubah jadi anak bebek?
Oke, anggap aja, jika kamu kuat, mungkin, kamu sukses meniru orang lain seperti anak bebek. Tapi, pertanyaannya, apakah kamu siap menjadi bebek untuk selamanya?
Bukankah jika kamu memilih untuk menjadi diri orang lain, kamu akan menyesal? Menyesal karena kehilangan diri sendiri untuk mencari afirmasi orang lain.
Padahal menjadi ayam pun, bukan masalah. Ayam masih berguna bagi mahluk lain. Nggak perlu malu jadi ayam.
Dan, seperti ayam, aku percaya bahwa tiap diri kita mampu mencapai sesuatu hal. Sesederhana apa pun. Sesederhana mencuci piring sendiri setelah makan atau membuang sampah pada tempatnya.
Bagiku, bangga dengan pencapaian sederhana dalam hidup itu adalah sebuah perayaan diri dari perjuangan mengubah perilaku diri yang sebelumnya, seperti: bangun pagi, minum air putih, olahraga, dan lain-lain.
Lalu, apa aja sih Pencapaian diri yang sederhana itu?
Menurutku sih, pencapaian sederhana diri sendiri adalah semua aksi perubahan kecil dan nyata yang kita lakukan secara konsisten dan penuh kesadaran. Nggak ada paksaan dari orang lain.
Perubahan ini, aku pikir, dapat mengubah dunia jika dilakukan oleh semua orang. Gerakan kecil yang dimulai dari diri sendiri adalah langkah besar perubahan dunia.
Bukankah perubahan positif di dunia ini dimulai dari diri sendiri? Bukankah langkah besar yang dilakukan oleh seseorang dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara rutin dan bersama-sama?
Contohnya ya seperti bangun pagi yang bisa bikin kita sehat dan bugar. Karena dengan bangun pagi, kita akan berusaha untuk tidur tidak larut. Tubuh pun dapat beristirahat dengan baik.
Lalu, saat bangun pagi, kita dapat menghirup udara pagi yang segar, berolahraga, mengerjakan pekerjaan dengan badan dan pikiran yang segar, karena tubuh terkena sinar matahari pagi.
Dan, kebaikan dari kebiasaan positif bangun pagi pun berlanjut, seperti datang ke tempat kerja atau sekolah tidak terlambat, tidak mengantuk saat kerja, dan lain-lain.
Aku dapat membayangkan jika kesadaran diri atas rasa bangga dengan pencapaian sederhana diri sendiri sudah mengakar di hati, setiap orang pasti memiliki jati diri yang baik.
Kenapa harus bangga dengan pencapaian sederhana diri sendiri?
Alasannya adalah sederhana. Kita harus bangga dengan pencapaian sederhana diri sendiri, karena butuh keberanian dan kekuatan hati untuk melakukan perubahan diri.
Dan, itu adalah pencapaian sederhana diri sendiri yang luar biasĂ .
Ah, aku ingat sekali bagaimana sulitnya untuk belajar bangun pagi. Perilaku sederhana yang mengubah diri kita.
Contohnya seperti seorang siswa yang sering terlambat, karena bangun kesiangan. Setelah aku ajak bicara, ia pun berusaha untuk bangun pagi.
Meskipun siswa ini terkadang masih datang telat, aku tahu ia sudah berusaha keras untuk bangun pagi dengan kesibukannya di rumah. Dan, aku sangat menghargai usaha siswaku ini.
Aku paham bahwa perjuangan untuk mengubah diri kita sendiri adalah usaha seumur hidup.
Bagi seorang guru sepertiku, usaha membangkitkan kesadaran anak yang masuk dalam ranah pembelajaran deep learning, mindful, adalah tugas besar yang butuh kerjasama semua pihak.
Seperti yang disampaikan oleh Pak Yusuf dalam workshop tanggal 25 Juli 2025 kemarin.
Saat kesadaran diri dalam belajar sudah muncul, maka anak-anak atau diri kita dapat diajak untuk mengikuti proses belajar yang meaningful dan joyful.
Dan, bangga dengan pencapaian sederhana diri sendiri merupakan bentuk rasa percaya diri yang dapat menguatkan kita untuk terus bertumbuh.
Thursday, July 31, 2025
Uang Versus Buku Sebagai Hadiah Indah Pernikahan
Alhamdulillah. Senang banget akhirnya temanku menikah beberapa tahun lalu. Tahun berapa ya? Aku sudah agak lupa. Habisnya, sudah cukup lama. Eh, artinya aku udah tua ya? wkwk..
Aku hanya ingat dilemma uang Versus Buku Sebagai Hadiah Indah Pernikahan yang ingin aku berikan padanya.
Aku memikirkannya sampai terbawa mimpi. Yups, aku itu sering mimpi sesuatu hal yang aku pikirkan di siang hari, tapi nggak atau belum dapat solusinya. Mungkin, aku pun sedang mencari solusi di dalam mimpiku.
Jadi, aku berpikir, lebih baik berpikir untuk mencari solusi untuk suatu masalah saat sedang tidak tidur. Kenapa? Ya, karena pas tidur aku nggak bisa eksekusi hasil pemikiranku itu. Ya kan?
Kenapa Memikirkan masalah uang Versus Buku Sebagai Hadiah Indah Pernikahan?
Oke, mungkin kamu akan bilang begini, "Ngapain ribet mikirin hal simple gini? Kasih uang aja kan selesai.."
Ya, itu benar sih. Memberikan amplop uang itu lebih simple dibandingkan barang lain. Dan, mungkin lebih berguna.
Kalau dalam adat Lampung sih, pengantin wanita akan mendapatkan barang-barang perabotan rumah tangga sebagai hadiah pernikahan dari semua kerabatnya.
Nah, meskipun temanku ini muli (gadis dalam bahasa Lampung), keluarganya sudah mengadopsi kebiasaan modern.
Temanku juga sepertinya lebih butuh uang daripada buku. Ya, ia nggak suka baca buku. wkwk..
Jadi, mungkin, lebih baik hadiah ini aku tunda dulu. Aku akan anggap ini sebagai ide bagiku nanti. Mungkin nanti, ia berubah jadi pecinta buku.
Kenapa aku tunda buku sebagai hadiah indah pernikahan bagi temanku?
Aku mempunyai beberapa alasan menunda hadiah buku buat temanku, yaitu:
1. Sebagian besar temanku berpenghasilan masih di bawah UMR Lampung. Jadi, mungkin, pentingnya membaca buku masih dikalahkan oleh kebutuhan dasar manusia, yaitu makan.
Lha, makan aja masih irit, aku pikir buku belum jadi kebutuhan pokok. Ya kan?
Jadi, kalau diminta memilih duit atau buku. Pasti, sebagian besar lebih pilih duit.
2. Sepertinya, sejak tahun itu pun, membaca buku belum jadi pilihan hobi atau kesenangan bagi sebagian besar teman-teman guru di sekolah. Mungkin itu sebabnya literasi anak-anak di sekolah pun gak terlalu bagus ya? wkwk.
Anyway, pilihan untuk mencari informasi adalah YouTube atau langsung googling aja. Mungkin, kalau sekarang kami, suka cari info lewat reels atau TikTok. Lebih mudah dan praktis.
So, sekali lagi, buku bukan alternatif hadiah pernikahan yang populer bagiku.
3. Uang bisa untuk beli keperluan atau keinginan apa pun, termasuk buku. Sedangkan buku, belum tentu bisa digunakan atau ditukar dengan kebutuhan atau kesenangan kita.
So, memilih hadiah buku sebagai hadiah indah pernikahan itu bukan opsi terbaik untuk teman-temanku saat ini.
Aku ingat hadiah buku yang sudah dibungkus rapi. Judulnya pun "Hadiah Pernikahan.." Covernya berwarna merah jambu. Manis sekali.
Sayangnya, buku itu masih ada di laci.
Tapi, mungkin nanti, buku itu bisa dijadikan sebagai hadiah indah pernikahan perak atau emas. Ide brilliant. Ya kan? Eh, kelamaan ya? wkwk.
Aku simpan aja bukunya deh. Nanti, aku bisa hadiahkan pada temanku itu atau diriku sendiri. Semoga..
Uang Sebagai Hadiah Indah Pernikahan
Kebiasaan pemberian hadiah amplop berisi uang saat kondangan pernikahan di kampungku adalah hal yang lumrah.
Hadiah yang praktis dan nggak ribet. Beberapa undangan acara lewat digital bahkan sudah memberikan link barcode bagi tamu undangan agar dapat mentransfer amplop hadiah.
Nilai hubungannya diukur dari sejumlah nominal yang dihadiahkan. Aku nggak tahu apakah hadiah ini memiliki nilai ikatan emosional atau tidak.
Tapi, aku berpikir kalau saja kehadiran seseorang dalam acara pernikahan yang esensi spiritualnya kental ini diukur dengan nilai nominal, aku khawatir dengan pondasi hubungan pernikahan sang pengantin.
Lalu, apakah ukuran memberi uang sebagai hadiah indah pernikahan merupakan rentannya hubungan pernikahan?
Lha, aku kok jadi membayangkan pernikahan digital dengan pengantin yang dinikahkan lewat zoom dan tamu yang hadir lewat zoom. Dan, pernikahan pun zoom.
Eeeh, perasaanku kok jadinya seperti menikah versi ini seperti menikah dengan layar HP atau laptop. Hiik, mau tertawa atau tersenyum kok rasanya gimana gitu..
Mungkin, meskipun zaman makin canggih, hubungan manusia secara konvensional, apalagi yang ada kaitannya dengan spiritual, tetap nggak bisa digantikan oleh mesin ciptaan manusia. Ya kan?
Dalam obrolan dengan teman, bibi, bude, atau sahabatku, aku selalu dengar ucapan, "Daripada datang ke undangan, jauh, ongkos mahal. Trus, ongkos lebih mahal daripada amplop. Lebih baik kirim uang aja.."
Lalu, sebagian besar keluarga pengantin berpikir sama, hingga pendamping pengantin makin menyusut aja. Hanya ada ibu bapak atau adik kakak dan beberapa tetangga.
Padahal mungkin saja, pengantin ingin didampingi keluarganya.
Tapi, sekali lagi, uang bisa jadi alat tukar kebahagiaan sementara, karena ia bisa membeli kebutuhan hidup pengantin. Kebutuhan yang mungkin makin banyak seiring bertambahnya usia pernikahan.
Buku Sebagai Hadiah Indah Pernikahan yang Bahagia
Nggak ada yang abadi di dunia ini. Bahkan uang pun mungkin nggak bisa membeli keabadian.
Begitu pun pernikahan, mungkin nggak semulus jalan tol. Selalu akan ada masalah yang hadir dalam pernikahan.
Dan, buku sebagai hadiah indah pernikahan pun bisa dibaca sebagai penghibur. Buku juga dapat dijadikan pengingat akan harapan dan doa-doa yang mengalir saat awal pernikahan.
Nah, alasan buku dapat dijadikan hadiah indah pernikahan adalah
1. Buku dapat dijadikan alternative hadiah buat sahabat terbaik. Hadiah berbeda dan special buat teman yang special.
2. Buku dapat jadi kenangan abadi buat pasamgan pengantin. Meskipun buku belum dibaca atau sudah dibaca berulang kali, buku nggak akan habis atau berkurang nilainya.
Kamu bisa tersenyum atau tertawa sambil mengenang pemberi buku hadiah yang sedang kamu baca.
3. Buku hadiah pernikahan dapat membuat mu merasa kaya dan nggak pernah sendiri. Buku akan menemanimu saat kamu duduk sendiri. Kamu nggak akan merasa sendiri.
Nah, gimana menurutmu? Hadiah pernikahan apa yang pernah kamu berikan pada temanmu?
Apa pun itu, niat terbaik untuk ikut merayakan kebahagiaan teman dalam pernikahannya serta doa yang kamu berikan adalah hal yang paling indah. Percayalah..
Monday, July 14, 2025
Manfaat Memelihara Hewan Peliharaan Bagi Anak
Awal mengenal Hewan Peliharaan Bagi Anak
Bagaimana jika Kamu takut Hewan Peliharaan?
Manfaat Memelihara Hewan Peliharaan Bagi Anak
Thursday, December 5, 2024
Edi Susilo : CGP Angkatan 11 Kota Bandar Lampung yang Penuh Semangat
Pertama kali mengenal pak Edi Susilo, pasti kamu akan berpikir beliau orang yang serius. Aku pun berpikir begitu. Tapi, saat aku ngobrol dengan Pak Edi Susilo CGP Angkatan 11 Kota Bandar Lampung yang penuh semangat ini, aku tahu bahwa beliau orangnya cukup easy going.
Buktinya, aku dan teman-teman di grup rempong yang semuanya perempuan, bisa lama ngobrol dengan guru matematika di SMPN 6 Bandar Lampung ini. Dan, asyiknya, pak Edi mau jadi ketua kami di grup yang terdiri dari 4 kelompok di bawah bimbingan fasilitator, ibu Liswantari, S.Pd.
Fyi, Pak Edi pernah sebelas tahun mengalami long distance dengan pasangan hidupnya, namun rasa percaya dan komunikasi yang baik menjadikan kehidupan beliau harmonis. Hal yang jadi poin pendukung pak Edi dapat mengikuti program guru penggerak angkatan 11 ini dengan lancar hingga akhir. Insya Allah, ilmu yang diperoleh dapat memberi manfaat bagi orang sekitar, terutama peserta didik di sekolah. Aamin.
Pengalaman Awal Mengikuti Seleksi Program Guru Penggerak
Memang, tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Seperti cerita pengalaman pak Edi mengikuti seleksi program guru penggerak ini. "Saya sebenarnya sudah mencoba seleksi CGP di angkatan sebelumnya, tapi gagal. Dan, seleksi angkatan ini pun hampir gagal, karena keluarga saya tertimpa musibah. Alhamdulillah, saya lulus dan bisa belajar bersama di sini."
Semangat pak Edi dalam menuntut ilmu ini, nggak perlu diragukan lagi. Sehingga, guru yang juga jadi pembina kegiatan eskul taekwondo ini pun nggak segan untuk lembur demi menyelesaikan tugas CGP.

.png)







